1. Niat dan berdiri
Berniat
untuk mengerjakan shalat fardhu/sunat, kemudian berdiri tegak menghadap kiblat.
Niat cukup dalam hati saja, jangan mengucap “ushalli” karena hal itu tidak ada
dalam sunnah Rasul. Pandangan mata hanya diarahkan ke tempat sujud agar dapat
shalat dengan khusyu’.
Dalil Tentang Niat
- “Rasulullah SAW bersabda: Pekerjaan-pekerjaan itu tidak lain hanyalah dengan niat, dan sesungguhnya setiap orang itu akan mendapatkan apa yang diniatkannya.” (HR. Bukhari & Muslim)
Lafadz
“ushalli…” tidak ada satupun dalil
yang mengajarkannya, tidak pernah Rasulullah SAW memulai shalatnya dengan
mengucap sebarang kata, selain takbir.
Oleh
karena itu, ucapan “ushalli…”
dimasukkan sebagai perkara bid’ah, karena termasuk
menambah-nambahkan sesuatu yang baru dalam perkara agama. Dan bid’ah adalah kesesatan, dan kesesatan berarti neraka.
Janganlah
kita mengikutinya, cukuplah kita berniat dalam hati saja. Kita mungkin menganggap
mengucap “ushalli”
itu ringan, namun kita tidak tahu kebencian ALLAH terhadap orang yang
menambah-nambah urusan agama-NYA.
Apakah
sukar shalat tanpa ushalli??? Jika tidak sukar, maka tinggalkan saja.
2. Takbiratul Ihram
Takbiratul
ihram dengan cara mengangkat kedua tangan setinggi bahu/pundak secara bersamaan sambil
membaca takbir “ALLAHU AKBAR” (Allah Maha Besar). Dimana jari-jari
tangan dirapatkan dan telapak tangan diarahkan ke kiblat.
Dalil Tentang Takbiratul
Ihram
- “Dari Abdullah bin Umar, ia berkata: Aku melihat Rasulullah SAW mengangkat kedua tangan hingga sejajar pundak ketika memulai salat, sebelum rukuk dan ketika bangun dari rukuk. Beliau tidak mengangkatnya di antara dua sujud.” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’I, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmed bin Hanbal,Malik & Ad Darami)
- “Dari Salim bin Abdullah bin Umar, katanya: Apabila Rasulullah SAW berdiri hendak shalat, maka diangkatnya kedua tangannya hingga setentang dengan kedua bahunya sambil membaca takbir. Apabila beliau hendak ruku’ dilakukannya pula seperti itu, begitu pula ketika bangkit dari ruku’. Tetapi beliau tidak melakukannya ketika mengangkat kepala dari sujud.” (HR. Muslim)
- “Dari Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam mengangkat kedua tangannya lurus dengan kedua bahunya ketika beliau memulai shalat, ketika bertakbir untuk ruku’, dan ketika mengangkat kepalanya dari ruku’.” (Muttafaq Alaihi)
- Dalam riwayat Muslim dari Malik Ibnu al-Huwairits ada hadits serupa dengan hadits Ibnu Umar, tetapi dia berkata: sampai lurus dengan ujung-ujung kedua telinganya.
- “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam memulai shalat dengan kata-kata ‘Allahu akbar’ (ALLAH Maha Besar). (HR. Muslim & Ibnu Majah)
- “Rasulullah mengeraskan suaranya dengan takbir sehingga terdengar oleh orang-orang yang berada di belakangnya.” (HR. Ahmad & Hakim, dishahihkan olehnya dan disepakati oleh Adz Dzahabi)
- “Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya tidaklah sempurna shalat salah seorang diantara manusia, sehingga ia berwudu dan meletakkan wudhu pada tempatnya, lalu berkata ‘Allahu Akbar’.” (HR. Thabrani, dengan sanad yang shahih)
- “Rasulullah SAW bersabda: Kunci shalat itu adalah suci, pembukanya adalah takbir dan penutupnya adalah salam.” (HR. Abu Dawud, Tirmizi dan dishahihkan olehnya dan disepakati oleh Adz Dzahabi)
- Diriwayatkan bahwa: “Beliau SAW mengangkat keduatangannya sambil meluruskan jari-jemarinya, tidak merenggangkannya dan tidak pula menggenggamnya.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Khuzaimah, Tamam, Al Hakim dan disahihkan olehnya dan disepakati oleh Adz Dzahabi)
3. Bersedekap
Setelah
bertakbiratul ihram kemudian meletakkan tangan di dada dengan telapak
tangan kanan diatas punggung tangan kiri (sedekap).
Dalil Tentang Bersedekap
- “Dari Wa’il bin Hujr katanya dia melihat Nabi SAW mengangkat kedua tangan pada permulaan shalat setentang dengan kedua telinganya sambil membaca takbir. Kemudian dilipatkannya bajunya lalu diletakkannya tangan kanan diatas tangan kiri. Ketika beliau hendak ruku’ dikeluarkannya kedua tangannya dari lipatan bajunya, kemudian diangkatnya sambil membaca takbir, lalu beliau ruku’. Ketika beliau membaca “sami’Allahu liman hamidah” diangkatnya pula kedua tangannya. Ketika sujud, beliau sujud antara kedua telapak tangannya.” (HR. Muslim)
- “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda: Sesungguhnya kami sekalian para Nabi telah diperintahkan untuk menyegerakan berbuka puasa dan mengakhirkan makan sahur, dan untuk meletakkan tangan tangan kanan kami di atas tangan-tangan kiri kami pada waktu shalat.” (HR. Ibnu Hibban dan Adh-Dhiya, dengan sanad yang shahih)
- “Beliau melarang untuk meletakkan tangan di atas lambung (perut) di dalam shalat.” (HR. Bukhari & Muslim)
4.
Doa Iftitah
Setelah
bersedekap kemudian Membaca Doa Iftitah. Ada
banyak bacaan iftitah yang diajarkan oleh Rasulullah, boleh memilih salah
satunya saja, atau menggabungkannya (jika shalat sendirian/sunat).
Dalil
Tentang Doa Iftitah
- “Dari Ibnu Umar bin Khattab katanya: Ketika kami sedang shalat bersama-sama Rasulullah SAW, tiba-tiba ada seorang laki-laki dalam jamaah membaca:
الله اكبركبيرا والحمد لله
كثيرا وسبحان الله بكرة واصيلا
(Allah
maha besar sebesar-besarnya, pujian yang tak terhenti bagi ALLAH, maha suci ALLAH
sepanjang pagi dan petang) Maka bertanya Rasulullah SAW: Siapa yang membaca
kalimat itu tadi? Jawab laki-laki itu: Saya, wahai Rasulullah!
Sabda
Rasulullah SAW: Aku kagum dengan kalimat itu, karenanya dibukakan segala pintu
langit.
Kata
Ibnu Umar: Aku tidak pernah lupa membacanya sejak kudengar Rasulullah SAW
membacanya.” (HR. Muslim)
5.
Membaca Al-Fatihah
Setelah
membaca doa Iftitah kemudian membaca ta’awudz (berlindung daripada syetan)
kemudian melanjutkannya dengan membaca Surah Al-Fatihah.
Dalil
Tentang membaca Al-Fatihah
- Sebelum memulai bacaan dalam shalat, Nabi SAW mengucapkan: “Aku berlindung kepada ALLAH dari setan yang terkutuk, dari kesombongannya dan sihirnya serta godaannya.” (HR. Tirmidzi, Nasa’i, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Baihaqi)
- Dari Ubadah bin Shamit ra: Bahwa Nabi SAW bersabda: “Tidak sah shalatnya orang yang tidak membaca surat Al Fatihah.” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmed & Ad Darami)
6.
Membaca Ayat atau Surah Al-Qur’an
Setelah
membaca Surah Al Fatihah kemudian Membaca salah satu Ayat atau Surah dari Al
Qur’an
Dalil
Membaca Ayat
- Dari Abu Hurairah katanya Rasulullah SAW bersabda : “Tidak sempurna shalat, melainkan dengan membaca bacaan (ayat).” kata Abu Hurairah: 'Karena itu apa yang dibacanya (Nabi SAW) nyaring, kami baca pula nyaring kepadamu. Dan apa yang dibacanya perlahan, kami baca pula perlahan kepadamu'.” (HR. Muslim)
- Dari Atha’ katanya Abu Hurairah berujar: “Dalam setiap shalat Rasulullah SAW selalu membaca bacaan (ayat). Karena itu bacaan yang dinyaringkannya kepada kami, kami nyaringkan pula, dan bacaan yang perlahan-lahan dibacanya kami perlahankan pula kepadamu.” Lalu seorang laki-laki bertanya, “Bagaimana kalau tidak kutambah lagi bacaanku selain membaca Al Fatihah?” Jawabnya (Abu Hurairah), “Jika anda tambah lebih baik, jika tidak maka Al Fatihah sudah cukup. (HR. Muslim)
7.
Ruku’
Setelah
selesai membaca ayat kemudian bertakbir sambil mengangkat kedua tangan seperti
ketika bertakbiratul ihram dengan membaca kalimat takbir “ALLAHU AKBAR”.
Setelah
selesai membaca takbir, kemudian RUKUK dengan cara membungkukkan
badan dengan posisi tangan diletakkan di atas lutut, dan punggung rata atau
lurus,
kemudian membaca tasbih RUKU’ sebanyak 3 kali: ‘subhana rabii al adzim’ atau
membaca: ‘subhaanaka allaahumma rabbanaa wabihamdika
allahummaghfirlii’ (Maha Suci Engkau ya Allah, Tuhan kami dengan memuji-Mu, ya
Allah ampunilah aku) sebagaimana hadits dibawah ini.
- “Aisyah Radliyallaahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam dalam ruku' dan sujudnya membaca: ‘subhaanaka allaahumma rabbanaa wabihamdika allahummaghfirlii’.” (Muttafaq Alaihi)
Dalil
Tentang Ruku’
- Hadis tentang takbir ruku adalah hadis shahih muttafaq ‘alaih, sehingga seluruh Mazhab mengganggapnya termasuk rukun shalat, jika terlupa membacanya, maka membatalkan shalatnya, dan ia harus mengulang shalatnya.
- “Dari Abu Qilaabah, bahwa ia melihat Malik bin Huwairits ketika ia shalat, ia bertakbir lalu mengangkat kedua tangannya. Ketika ingin rukuk, ia mengangkat kedua tangannya. Ketika mengangkat kepala dari rukuk, ia mengangkat kedua tangannya. Ia (Malik) bercerita bahwa Rasulullah SAW dahulu berbuat seperti itu. (HR. Bukhari, Muslim, Nasa’i, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmed bin Hanbal & Ad-Darami)
Tata
Cara Ruku’
- Dari ‘Aisyah katanya : “Rasulullah SAW memulai salat beliau dengan takbir. Sesudah itu beliau baca surat Al Fatihah. Apabila beliau Ruku’ kepalanya tidak mendongak dan tidak pula menunduk, tetapi pertengahan (sehingga kepala beliau kelihatan rata dengan punggung). Apabila beliau bangkit dari Ruku’ beliau tidak sujud sebelum beliau berdiri lurus terlebih dahulu. Apabila beliau mengangkat kepala dari sujud (pertama), beliau tidak sujud (kedua) sebelum duduknya antara dua sujud itu tepat benar (sempurna) lebih dahulu. Tiap-tiap selesai dua rakaat, beliau membaca tahiyat sambil duduk menghimpit kaki kiri dan menegakkan kaki kanan. Beliau melarang duduk seperti cara setan duduk atau seperti binatang buas duduk. Dan beliau menyudahi salat dengan membaca salam.” (HR. Muslim)
- “Mush’ab bin Saad berkata: Aku salat di samping ayahku (yaitu Saad bin Abu Waqash). Aku biarkan tanganku (terlepas) di depan lututku. Lalu ayah berkata: Tempelkan kedua telapak tanganmu di kedua lututmu. Kemudian aku melakukan hal itu sekali lagi. Ayah memukul tanganku seraya berkata: Kita dilarang melakukan itu (melepas tangan saat rukuk). Kita diperintah untuk menempelkan tangan kita pada lutut saat ruku’.” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad bin Hanbal & Ad Darami)
Dalil
Tentang Bacaan Ruku’
- “Rasulullah SAW bersabda: Apabila salah seorang dari kamu mengucapkan ‘Subhana abii al adzim’ tiga kali, maka telah sempurna ruku’nya.” (HR. Tirmizi, Abu Dawud, Nasai & Ibnu Majah)
8.
I’tidal
Setelah
membungkuk ruku’, kemudian bangkit berdiri tegak sambil mengangkat kedua tangan
sambil membaca takbir I’tidal: ‘sami'allaahu
liman hamidah’ (Maha
mendengar ALLAH kepada yang memuji-Nya).
Setelah
itu diam sekejap sambil meluruskan kedua tangan kemudian membaca tasbih
I’tidal: ‘rabbanaa walakal hamdu’ (Ya Tuhan kami hanya
bagi-Mu segala puji).
Dalil
Tentang Membaca Takbir dan Tasbih I’tidal
- “Dari Abu Hurairah ra: Bahwa Rasulullah SAW bersabda : Sesungguhnya imam itu untuk diikuti. Karena itu, maka janganlah kalian menyalahinya. Apabila ia bertakbir, maka bertakbirlah kalian. Bila ia rukuk, maka rukuklah kalian. Bila ia membaca ‘sami’allahu liman hamidah’, maka bacalah ‘Allahumma rabbanaa lakal hamdu’. Bila ia sujud, maka sujudlah kalian. Dan bila ia shalat sambil duduk, maka shalatlah kalian sambil duduk.” (HR. Bukhari, Muslim, Nasa’i, Abu Dawud, Ibnu Majah)
Dalam
hadis muttafaq alaihi ini terdapat tambahan Allahumma. Sedangkan Rabbana… itu
kita ambil dari hadis Bukhari dan Muslim lainnya. Jika kita artikan maka Allahumma
rabbana berarti “Ya ALLAH, ya Tuhan kami”.
9.
Sujud
Setelah
membaca tasbih tuma’ninah kemudian ber-SUJUD dengan cara membungkuk meletakkan
wajah ke sajadah, kemudian membaca tasbih SUJUD sebanyak 3 kali: ‘Subhana rabii
al a’la’ (Maha Suci Tuhan yang Maha Tinggi).
Dalil
Tentanng Bacaan Sujud
- “Dari Hudzaifah katanya ia melihat Rasulullah SAW sujud dengan mengucapkan: Subhana rabii al a’la (Maha Suci Tuhan yang Maha Tinggi). “(HR. Muslim)
- “Rasulullah SAW mengajarkan: Apabila salah seorang dari kamu bersujud, hendaklah ia mengucapkan ‘Subhana rabii al a’la’ tiga kali, dan itulah yang paling sedikit.” (HR. Tirmizi, Abu Dawud, Nasa’i & Ibnu Majah)
Tata
Cara Sujud
- Dari Al Barra’ katanya Rasulullah SAW bersabda: “Apabila engkau sujud, letakkan telapak tanganmu dan tinggikan kedua sikumu.” (HR. Muslim)
- Dari Maimunah isteri Nabi SAW katanya: “Apabila Rasulullah SAW sujud direnggangkannya kedua sikunya dari rusuk, sehingga kelihatan putih ketiak beliau. Dan apabila beliau duduk antara dua sujud dan pada tasyahud awal, beliau duduk tenang di atas pahanya yang kiri.” (HR. Muslim)
- “Dari Ibnu Abbas ra, ia berkata: Nabi SAW diperintahkan untuk sujud dengan tujuh anggota badan dan dilarang menutup dahinya dengan rambut dan pakaian.” (HR. Bukhari, Muslim, Nasa’i, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmed bin Hanbal & Ad-Darami)
Hadits diatas mengatakan bahwa Tujuh anggota badan itu ialah:
(1) wajah yaitu dahi dan hidung ;
(2-3) kedua belah telapak tangan ;
(4-5) kedua ujung lutut ;
(6-7) kedua ujung kaki.
- Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Ketahuilah bahwa aku benar-benar dilarang untuk membaca al-Qur'an sewaktu ruku' dan sujud, adapun sewaktu ruku' agungkanlah Tuhan dan sewaktu sujud bersungguh-sungguhlah dalam berdoa karena besar harapan akan dikabulkan do'amu.” (HR. Muslim.)
10.
Duduk di Antara Dua Sujud
Setelah
bersujud kemudian bangkit duduk dengan cara bangkit dari sujud sambil membaca
takbir “Allahu Akbar” tetapi membaca takbir ini tidak dengan mengangkat
kedua tangan.
Kemudian duduk dengan menekukkan ujung kaki kanan dan setelah duduk tegak sempurna
kemudian membaca: allaahummagh firlii,
warhamnii, wahdinii, wa 'afinii, war zugnii (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah diriku, berilah petunjuk padaku,
limpahkan kesehatan padaku dan berilah rizqi padaku).
Dalil
Tentang Bacaan Duduk di Antara Dua sujud
- Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam antara dua sujud biasanya membaca: “Allaahummagh firlii, warhamnii, wahdinii, wa 'afinii, war zugnii (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah diriku, berilah petunjuk padaku, limpahkan kesehatan padaku dan berilah rizqi padaku)." Diriwayatkan oleh Imam Empat kecuali Nasa'i dengan lafadz hadits menurut Abu Dawud. Shahih menurut Hakim.
11.
Sujud
Setelah
membaca doa zikir duduk antara dua sujud kemudian kembali membaca takbir sambil
membungkuk untuk ber-SUJUD dan kembali membaca tasbih SUJUD 3 kali: Subhana
rabii al a’la (Maha Suci (Allah) Tuhan yang Maha Tinggi).
Dalil
Tentang Sujud ke-2
- “Dari Barra bin Azib, ia berkata: Aku mengamati shalat Muhammad SAW. Aku perhatikan berdirinya, rukuknya, I’tidal setelah rukuk, sujudnya, duduk antara dua sujud, sujud kedua, duduk antara salam dan selesai shalat, (aku perhatikan) satu dengan lainnya saling sama.” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, Abu Dawud, Ahmed bin Hanbal & Ad-Darami)
- Dari Abu Salamah bin Abdurrahman bahwa Abu Hurairah shalat mengimami para sahabat. Ia bertakbir tiap kali turun dan bangun. Ketika selesai ia berkata: “Demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling mirip dengan shalatnya Rasulullah SAW.” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmed bin Hanbal, Malik & Ad-Darami)
12.
Duduk Tuma’ninah Setalah Sujud yang Ke-2
Setelah
bangkit dari sujud yang kedua, hendaknya duduk tuma’ninah sekejap dua
atau 5 detik
kemudian kembali berdiri untuk mengerjakan rakaat selanjutnya sambil membaca
takbir, setelah berdiri dengan sempurna kemudian memulai rakaat selanjutnya
dengan kembali membaca Fatihah.
Dalil
Tentang Duduk Tuma’ninah Setelah Sujud ke-2
- “Dari Malik Ibnu al-Huwairits Radliyallaahu 'anhu bahwa dia pernah melihat Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam sedang sholat, apabila beliau dalam rakaat ganjil dari sholatnya beliau tidak bangkit berdiri sebelum duduk dengan tegak.” (HR. Bukhari)
13.
Duduk Tahiyat atau Duduk Tasyahud
Duduk
tahiyat awal adalah duduk sesudah sujud kedua pada setiap dua rakaat, dengan
cara meluruskan ujung kaki kiri dan menegakkan ujung kaki kanan, kemudian membaca “Attahiyyatul
mubarokatush-sholawatulillah….”
Sesudah
sampai pada membaca syahadat, kemudian bangkit berdiri sambil bertakbir untuk melanjutkan
rakaat selanjutnya.
Tata
Cara Duduk Tasyahud
- Dari ‘Aisyah katanya : “Rasulullah SAW memulai shalat beliau dengan takbir. Sesudah itu beliau baca surat Al Fatihah. Apabila beliau Ruku’ kepalanya tidak mendongak dan tidak pula menunduk, tetapi pertengahan (sehingga kepala beliau kelihatan rata dengan punggung). Apabila beliau bangkit dari Ruku’ beliau tidak sujud sebelum beliau berdiri lurus terlebih dahulu. Apabila beliau mengangkat kepala dari sujud (pertama), beliau tidak sujud (kedua) sebelum duduknya antara dua sujud itu tepat benar (sempurna) lebih dahulu. Tiap-tiap selesai dua rakaat, beliau membaca tahiyat sambil duduk menghimpit kaki kiri dan menegakkan kaki kanan. Beliau melarang duduk seperti cara setan duduk atau seperti binatang buas duduk. Dan beliau menyudahi shalat dengan membaca salam.” (HR. Muslim)
- Dari Amir bin Abdullah bin Zubair dari bapaknya, katanya : “Apabila Rasulullah SAW duduk mendoa (tasyahud dalam shalat) diletakkannya tangan kanan diatas paha kanan, tangan kiri diatas paha kiri. Beliau menunjuk dengan telunjuk, meletakkan ibu jari di jari tengah serta meletakkan telapak tangan kiri di atas lutut.” (HR. Muslim)
Dalil
Tentang Bacaan Tasyahud Pertama
- “Abdullah Ibnu Mas'ud Radliyallaahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam berpaling pada kami kemudian bersabda: ‘Apabila seseorang di antara kamu sholat hendaknya ia membaca:
اَلتَّحِيَّاتُ
لِلَّهِ , وَالصَّلَوَاتُ , وَالطَّيِّبَاتُ , اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا
اَلنَّبِيُّ وَرَحْمَةَ اَللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ , اَلسَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى
عِبَادِ اَللَّهِ اَلصَّالِحِينَ , أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ ,
وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
(Segala penghormatan, sholawat, dan kebaikan itu
hanya bagi Allah semata. Semoga selamat sejahtera dilimpahkan kepadamu wahai
Nabi beserta rahmat Allah dan berkah-Nya. Semoga selamat sejahtera dilimpahkan
kepada kami dan kepada hamba-hamba-Nya yang shaleh. Aku bersaksi bahwa tiada
Tuhan selain Allah Yang Esa tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa
Muhammad itu hamba dan utusan-Nya), kemudian hendaknya ia memilih doa yang ia
sukai lalu berdoa dengan doa itu." Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut
riwayat Bukhari.
Menurut riwayat Nasa'i: Kami telah membaca doa itu sebelum tasyahud itu diwajibkan atas kami.
Menurut riwayat Nasa'i: Kami telah membaca doa itu sebelum tasyahud itu diwajibkan atas kami.
- ”Menurut riwayat Ahmad: bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam telah mengajarinya tasyahud dan beliau memerintahkan agar mengajarkannya kepada manusia.”
- “Menurut riwayat Muslim bahwa Ibnu Abbas Radliyallaahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam mengajarkan kepada kami tasyahhud:
اَلتَّحِيَّاتُ
اَلْمُبَارَكَاتُ اَلصَّلَوَاتُ لِلَّهِ ... - إِلَى آخِرِهِ
(Segala
kehormatan yang penuh berkah, sholawat kebaikan hanya bagi Allah semata...
sampai akhir).”
- “Dari Abdullah bin Mas’ud ra dia berkata: Ketika kami bermakmum di belakang Rasulullah SAW kami membaca : “Keselamatan tetap kepada Allah, keselamatan tetap kepada si fulan.” Suatu hari Rasulullah SAW bersabda kepada kami : Sesungguhnya Allah adalah keselamatan itu sendiri. Jadi apabila salah seorang di antara engkau duduk (membaca tasyahud) hendaknya membaca: ‘Segala kehormatan, semua rahmat dan semua yang baik itu milik Allah. Semoga keselamatan, rahmat Allah dan berkah-Nya dilimpahkan kepadamu, wahai Nabi. Semoga keselamatan dilimpahkan kepada kami dan kepada para hamba Allah yang saleh.” Apabila dia telah membacanya, maka keselamatan itu akan menyebar kepada semua hamba Allah yang saleh baik yang di langit maupun yang di bumi. ‘Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad hamba-NYA dan Rasul-NYA’, kemudian berdoalah sesukanya.” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmed bin Hanbal)
14.
Duduk tahiyat akhir
Adalah
duduk pada rakaat terakhir, dengan cara meluruskan ujung kaki kiri dan
menegakkan ujung kaki kanan, kemudian membaca: “Attahiyyatul
mubarokatush-sholawatulillah….”
Dalil
Tentang Cara Duduk Tasyahud Akhir
- Dari Muhammad bin Amr bin Atha’, bahwasanya ia duduk dengan sekelompok sahabat Nabi SAW. Lalu kami menyebutkan tentang shalat Nabi SAW, maka Abu Humaid As Sa’idi berkata: “Aku adalah orang yang paling hafal di antara kalian tentang shalat Rasulullah SAW, aku melihat beliau bertakbir seraya menempatkan kedua tangannya sejajar dengan kedua pundaknya. Apabila ruku’ beliau menempatkan kedua tangannya pada kedua lututnya, kemudian beliau meratakan belakangnya (punggungnya). Apabila mengangkat kepalanya, beliau tegak hingga setiap ruas tulang belakang kembali pada tempatnya. Apabila sujud, beliau meletakkan kedua tangannya tanpa menelungkupkan dan tidak pula merapatkannya, dan menghadapkan jari-jarinya ke kiblat. Apabila duduk pada dua rakaat, beliau duduk di atas kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya. Apabila duduk pada rakaat terakhir beliau memajukan kaki kirinya dan menegakkan kaki yang satunya, seraya duduk dengan pantatnya.” (HR. Bukhari)
Dalil
Tentang shalawat Nabi
- “Dari Abdullah bin Abu Laila, dia berkata: Kaab bin Ujrah menemuiku dan berkata: Maukah engkau aku berikan hadiah? Rasulullah SAW pernah menemui kami, lalu kami berkata: “Kami telah mengetahui cara membaca salam untuk baginda, lalu bagaimana kami membaca selawat untuk anda?” Beliau SAW bersabda: Bacalah, “Ya Allah, limpahkan kesejahteraan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah melimpahkan kesejahteraan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau maha terpuji lagi mulia. Ya Allah, limpahkanlah keberkahan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan keberkahan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau maha terpuji lagi maha mulia.” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmed bin Hanbal)
- “Dari Abu Mas'ud bahwa Basyir Ibnu Sa'ad bertanya: Wahai Rasulullah, Allah memerintahkan kepada kami untuk bersholawat padamu, bagaimanakah cara kami bersholawat padamu? beliau diam kemudian bersabda: Ucapkanlah:
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ , وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ , كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ
إِبْرَاهِيمَ , وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ , وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ , كَمَا
بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِي اَلْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
(Ya Allah limpahkanlah rahmat
atas Muhammad dan keluarganya sebagaimana telah Engkau limpahkan rahmat atas
Ibrahim. Berkatilah Muhammad dan keluarganya sebagaimana
Engkau telah memberkati Ibrahim. Di seluruh alam ini Engkau Maha Terpuji dan
Maha Agung), kemudian salam sebagaimana yang telah kamu ketahui." (HR.
Muslim). Dalam hadits tersebut Ibnu Khuzaimah menambahkan: "Bagaimanakah
cara kami bersholawat padamu, jika kami bersholawat padamu pada waktu
sholat."
16.
Salam
Sesudah
selesai membaca tahiyat akhir, kemudian mengakhiri shalat dengan mengucapkan
SALAM sambil menolehkan wajah ke sebelah kanan, kemudian menoleh ke
sebelah kiri
seraya membaca SALAM.
Dalil
Tentanng Salam
- Dari Abu Ma’mar ra. Katanya : “Seorang Amir (pemimpin) dari Makkah menyudahi shalat dengan dua kali salam. Maka bertanya Abdullah, “Dari mana anda peroleh cara begitu?” Kata Al Hakam didalam hadisnya, “Sesungguhnya Rasulullah SAW melakukan seperti itu.” (HR. Muslim)
- Dari Amir bin Sa’ad dari bapaknya (Sa’ad bin Abi Waqash ra), katanya : “Aku melihat Rasulullah SAW memberi salam ke kanan dan ke kiri sehingga terlihat olehku putih pipi beliau.” (HR. Muslim)
- Wail Ibnu Hujr Radliyallaahu 'anhu berkata: Aku pernah shalat bersama Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, beliau salam ke sebelah kanan dan kiri dengan (ucapan):
اَلسَّلَام
عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اَللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
(Semoga salam sejahtera atasmu
beserta rahmat Allah dan berkah-Nya). (HR. Abu Dawud dengan
sanad shahih)
Perintah dari Nabi Muhammad SAW untuk bertuma’ninah dalam shalat
Hadis
riwayat Abu Hurairah ra :
Bahwa
Rasulullah SAW masuk mesjid. Lalu seorang laki-laki masuk dan melakukan shalat.
Setelah selesai ia datang dan memberi salam kepada Rasulullah SAW. Beliau
menjawab salamnya lalu bersabda : Ulangilah shalatmu, karena sesungguhnya
engkau belum shalat. Lelaki itu kembali shalat seperti shalat sebelumnya. Setelah
shalatnya yang kedua ia mendatangi Nabi SAW dan memberi salam. Rasulullah SAW
menjawab : Wa’alaikas salam. Kemudian beliau bersabda lagi : Ulangi shalatmu,
karena sesungguhnya engkau belum shalat. Sehingga orang itu mengulangi
shalatnya sebanyak tiga kali. Lelaki itu berkata : Demi Zat yang mengutus anda
dengan membawa kebenaran, saya tidak dapat mengerjakan yang lebih baik daripada
ini semua. Ajarilah saya. Beliau bersabda : Bila engkau melakukan shalat,
bertakbirlah. Bacalah bacaan dari Al-Quran yang engkau hafal. Setelah itu rukuk
hingga engkau tenang dalam rukukmu. Bangunlah hingga berdiri tegak. Lalu
bersujudlah hingga engkau tenang dalam sujudmu. Bangunlah hingga engkau tenang dalam
dudukmu.
Kerjakan semua itu dalam seluruh shalatmu.” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi,
Nasa’i, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmed bin Hanbal)