Rabu, 30 November 2011

tata cara sholat



1. Niat dan berdiri
Berniat untuk mengerjakan shalat fardhu/sunat, kemudian berdiri tegak menghadap kiblat. Niat cukup dalam hati saja, jangan mengucap “ushalli” karena hal itu tidak ada dalam sunnah Rasul. Pandangan mata hanya diarahkan ke tempat sujud agar dapat shalat dengan khusyu’.

Dalil Tentang Niat
  • “Rasulullah SAW bersabda: Pekerjaan-pekerjaan itu tidak lain hanyalah dengan niat, dan sesungguhnya setiap orang itu akan mendapatkan apa yang diniatkannya.” (HR. Bukhari & Muslim)
An-Nawawi mengatakan didalam Raudhatu ‘th Thalibin Al Maktab Al Islami, bahwa niat adalah maksud (keinginan). Orang shalat hendaklah menghadirkan didalam ingatannya akan shalat itu sendiri beserta kewajiban-kewajiban (rukun) dalam shalat. Kemudian memasukan pengetahuan dan ingatan itu secara sengaja dan menghubungkannya dengan awal takbir. Kemudian mereka berpendapat bahwa niat itu sudah cukup dalam hati saja.
Lafadz “ushalli…” tidak ada satupun dalil yang mengajarkannya, tidak pernah Rasulullah SAW memulai shalatnya dengan mengucap sebarang kata, selain takbir.
Oleh karena itu, ucapan “ushalli…” dimasukkan sebagai perkara bid’ah, karena termasuk menambah-nambahkan sesuatu yang baru dalam perkara agama. Dan bid’ah adalah kesesatan, dan kesesatan berarti neraka.
Janganlah kita mengikutinya, cukuplah kita berniat dalam hati saja. Kita mungkin menganggap mengucap “ushalli” itu ringan, namun kita tidak tahu kebencian ALLAH terhadap orang yang menambah-nambah urusan agama-NYA.
Apakah sukar shalat tanpa ushalli??? Jika tidak sukar, maka tinggalkan saja.



2. Takbiratul Ihram
Takbiratul ihram dengan cara mengangkat kedua tangan setinggi bahu/pundak secara bersamaan sambil membaca takbir “ALLAHU AKBAR” (Allah Maha Besar). Dimana jari-jari tangan dirapatkan dan telapak tangan diarahkan ke kiblat.

Dalil Tentang Takbiratul Ihram

  • “Dari Abdullah bin Umar, ia berkata: Aku melihat Rasulullah SAW mengangkat kedua tangan hingga sejajar pundak ketika memulai salat, sebelum rukuk dan ketika bangun dari rukuk. Beliau tidak mengangkatnya di antara dua sujud.” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’I, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmed bin Hanbal,Malik & Ad Darami) 

  • “Dari Salim bin Abdullah bin Umar, katanya: Apabila Rasulullah SAW berdiri hendak shalat, maka diangkatnya kedua tangannya hingga setentang dengan kedua bahunya sambil membaca takbir. Apabila beliau hendak ruku’ dilakukannya pula seperti itu, begitu pula ketika bangkit dari ruku’. Tetapi beliau tidak melakukannya ketika mengangkat kepala dari sujud.” (HR. Muslim)
  • “Dari Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam mengangkat kedua tangannya lurus dengan kedua bahunya ketika beliau memulai shalat, ketika bertakbir untuk ruku’, dan ketika mengangkat kepalanya dari ruku’.” (Muttafaq Alaihi)

  • Dalam riwayat Muslim dari Malik Ibnu al-Huwairits ada hadits serupa dengan hadits Ibnu Umar, tetapi dia berkata: sampai lurus dengan ujung-ujung kedua telinganya.
  • “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam memulai shalat dengan kata-kata ‘Allahu akbar’ (ALLAH Maha Besar). (HR. Muslim & Ibnu Majah)
  • Rasulullah mengeraskan suaranya dengan takbir sehingga terdengar oleh orang-orang yang berada di belakangnya.” (HR. Ahmad & Hakim, dishahihkan olehnya dan disepakati oleh Adz Dzahabi)
  • “Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya tidaklah sempurna shalat salah seorang diantara manusia, sehingga ia berwudu dan meletakkan wudhu pada tempatnya, lalu berkata ‘Allahu Akbar’.” (HR. Thabrani, dengan sanad yang shahih)
  • “Rasulullah SAW bersabda: Kunci shalat itu adalah suci, pembukanya adalah takbir dan penutupnya adalah salam.” (HR. Abu Dawud, Tirmizi dan dishahihkan olehnya dan disepakati oleh Adz Dzahabi)
  • Diriwayatkan bahwa: “Beliau SAW mengangkat keduatangannya sambil meluruskan jari-jemarinya, tidak merenggangkannya dan tidak pula menggenggamnya.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Khuzaimah, Tamam, Al Hakim dan disahihkan olehnya dan disepakati oleh Adz Dzahabi)


3. Bersedekap
Setelah bertakbiratul ihram kemudian meletakkan tangan di dada dengan telapak tangan kanan diatas punggung tangan kiri (sedekap).

Dalil Tentang Bersedekap
  • “Dari Wa’il bin Hujr katanya dia melihat Nabi SAW mengangkat kedua tangan pada permulaan shalat setentang dengan kedua telinganya sambil membaca takbir. Kemudian dilipatkannya bajunya lalu diletakkannya tangan kanan diatas tangan kiri. Ketika beliau hendak ruku’ dikeluarkannya kedua tangannya dari lipatan bajunya, kemudian diangkatnya sambil membaca takbir, lalu beliau ruku’. Ketika beliau membaca “sami’Allahu liman hamidah” diangkatnya pula kedua tangannya. Ketika sujud, beliau sujud antara kedua telapak tangannya.” (HR. Muslim)
  • “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda: Sesungguhnya kami sekalian para Nabi telah diperintahkan untuk menyegerakan berbuka puasa dan mengakhirkan makan sahur, dan untuk meletakkan tangan tangan kanan kami di atas tangan-tangan kiri kami pada waktu shalat.” (HR. Ibnu Hibban dan Adh-Dhiya, dengan sanad yang shahih)
  • Beliau melarang untuk meletakkan tangan di atas lambung (perut) di dalam shalat.” (HR. Bukhari & Muslim)


4. Doa Iftitah
Setelah bersedekap kemudian Membaca Doa Iftitah. Ada banyak bacaan iftitah yang diajarkan oleh Rasulullah, boleh memilih salah satunya saja, atau menggabungkannya (jika shalat sendirian/sunat).

Dalil Tentang Doa Iftitah
  • “Dari Ibnu Umar bin Khattab katanya: Ketika kami sedang shalat bersama-sama Rasulullah SAW, tiba-tiba ada seorang laki-laki dalam jamaah membaca:
الله اكبركبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة واصيلا  
(Allah maha besar sebesar-besarnya, pujian yang tak terhenti bagi ALLAH, maha suci ALLAH sepanjang pagi dan petang) Maka bertanya Rasulullah SAW: Siapa yang membaca kalimat itu tadi? Jawab laki-laki itu: Saya, wahai Rasulullah!
Sabda Rasulullah SAW: Aku kagum dengan kalimat itu, karenanya dibukakan segala pintu langit.
Kata Ibnu Umar: Aku tidak pernah lupa membacanya sejak kudengar Rasulullah SAW membacanya.” (HR. Muslim)


5. Membaca Al-Fatihah
Setelah membaca doa Iftitah kemudian membaca ta’awudz (berlindung daripada syetan) kemudian melanjutkannya dengan membaca Surah Al-Fatihah.

Dalil Tentang membaca Al-Fatihah
  • Sebelum memulai bacaan dalam shalat, Nabi SAW mengucapkan: “Aku berlindung kepada ALLAH dari setan yang terkutuk, dari kesombongannya dan sihirnya serta godaannya.” (HR. Tirmidzi, Nasa’i, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Baihaqi)
  • Dari Ubadah bin Shamit ra: Bahwa Nabi SAW bersabda: “Tidak sah shalatnya orang yang tidak membaca surat Al Fatihah.” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmed & Ad Darami)


6. Membaca Ayat atau Surah Al-Qur’an
Setelah membaca Surah Al Fatihah kemudian Membaca salah satu Ayat atau Surah dari Al Qur’an

Dalil Membaca Ayat
  • Dari Abu Hurairah katanya Rasulullah SAW bersabda : “Tidak sempurna shalat, melainkan dengan membaca bacaan (ayat).” kata Abu Hurairah: 'Karena itu apa yang dibacanya (Nabi SAW) nyaring, kami baca pula nyaring kepadamu. Dan apa yang dibacanya perlahan, kami baca pula perlahan kepadamu'.” (HR. Muslim)
  • Dari Atha’ katanya Abu Hurairah berujar: “Dalam setiap shalat Rasulullah SAW selalu membaca bacaan (ayat). Karena itu bacaan yang dinyaringkannya kepada kami, kami nyaringkan pula, dan bacaan yang perlahan-lahan dibacanya kami perlahankan pula kepadamu.” Lalu seorang laki-laki bertanya, “Bagaimana kalau tidak kutambah lagi bacaanku selain membaca Al Fatihah?” Jawabnya (Abu Hurairah), “Jika anda tambah lebih baik, jika tidak maka Al Fatihah sudah cukup. (HR. Muslim)

7. Ruku’
Setelah selesai membaca ayat kemudian bertakbir sambil mengangkat kedua tangan seperti ketika bertakbiratul ihram dengan membaca kalimat takbir “ALLAHU AKBAR”.
Setelah selesai membaca takbir, kemudian RUKUK dengan cara membungkukkan badan dengan posisi tangan diletakkan di atas lutut, dan punggung rata atau lurus, kemudian membaca tasbih RUKU’ sebanyak 3 kali: ‘subhana rabii al adzim’ atau membaca: ‘subhaanaka allaahumma rabbanaa wabihamdika allahummaghfirlii’ (Maha Suci Engkau ya Allah, Tuhan kami dengan memuji-Mu, ya Allah ampunilah aku) sebagaimana hadits dibawah ini.
  • “Aisyah Radliyallaahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam dalam ruku' dan sujudnya membaca: ‘subhaanaka allaahumma rabbanaa wabihamdika allahummaghfirlii’.” (Muttafaq Alaihi)

Dalil Tentang Ruku’
  • Hadis tentang takbir ruku adalah hadis shahih muttafaq ‘alaih, sehingga seluruh Mazhab mengganggapnya termasuk rukun shalat, jika terlupa membacanya, maka membatalkan shalatnya, dan ia harus mengulang shalatnya.
  • “Dari Abu Qilaabah, bahwa ia melihat Malik bin Huwairits ketika ia shalat, ia bertakbir lalu mengangkat kedua tangannya. Ketika ingin rukuk, ia mengangkat kedua tangannya. Ketika mengangkat kepala dari rukuk, ia mengangkat kedua tangannya. Ia (Malik) bercerita bahwa Rasulullah SAW dahulu berbuat seperti itu. (HR. Bukhari, Muslim, Nasa’i, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmed bin Hanbal & Ad-Darami)

Tata Cara Ruku’
  • Dari ‘Aisyah katanya : “Rasulullah SAW memulai salat beliau dengan takbir. Sesudah itu beliau baca surat Al Fatihah. Apabila beliau Ruku’ kepalanya tidak mendongak dan tidak pula menunduk, tetapi pertengahan (sehingga kepala beliau kelihatan rata dengan punggung). Apabila beliau bangkit dari Ruku’ beliau tidak sujud sebelum beliau berdiri lurus terlebih dahulu. Apabila beliau mengangkat kepala dari sujud (pertama), beliau tidak sujud (kedua) sebelum duduknya antara dua sujud itu tepat benar (sempurna) lebih dahulu. Tiap-tiap selesai dua rakaat, beliau membaca tahiyat sambil duduk menghimpit kaki kiri dan menegakkan kaki kanan. Beliau melarang duduk seperti cara setan duduk atau seperti binatang buas duduk. Dan beliau menyudahi salat dengan membaca salam.” (HR. Muslim)
  • “Mush’ab bin Saad berkata: Aku salat di samping ayahku (yaitu Saad bin Abu Waqash). Aku biarkan tanganku (terlepas) di depan lututku. Lalu ayah berkata: Tempelkan kedua telapak tanganmu di kedua lututmu. Kemudian aku melakukan hal itu sekali lagi. Ayah memukul tanganku seraya berkata: Kita dilarang melakukan itu (melepas tangan saat rukuk). Kita diperintah untuk menempelkan tangan kita pada lutut saat ruku’.” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad bin Hanbal & Ad Darami)

Dalil Tentang Bacaan Ruku’
  • “Rasulullah SAW bersabda: Apabila salah seorang dari kamu mengucapkan ‘Subhana  abii al adzim’ tiga kali, maka telah sempurna ruku’nya.” (HR. Tirmizi, Abu Dawud, Nasai & Ibnu Majah)


8. I’tidal
Setelah membungkuk ruku’, kemudian bangkit berdiri tegak sambil mengangkat kedua tangan sambil membaca takbir I’tidal: ‘sami'allaahu liman hamidah’ (Maha mendengar ALLAH kepada yang memuji-Nya).
Setelah itu diam sekejap sambil meluruskan kedua tangan kemudian membaca tasbih I’tidal: ‘rabbanaa walakal hamdu’ (Ya Tuhan kami hanya bagi-Mu segala puji).

Dalil Tentang Membaca Takbir dan Tasbih I’tidal
  • “Dari Abu Hurairah ra: Bahwa Rasulullah SAW bersabda : Sesungguhnya imam itu untuk diikuti. Karena itu, maka janganlah kalian menyalahinya. Apabila ia bertakbir, maka bertakbirlah kalian. Bila ia rukuk, maka rukuklah kalian. Bila ia membaca ‘sami’allahu liman hamidah’, maka bacalah ‘Allahumma rabbanaa lakal hamdu’. Bila ia sujud, maka sujudlah kalian. Dan bila ia shalat sambil duduk, maka shalatlah kalian sambil duduk.” (HR. Bukhari, Muslim, Nasa’i, Abu Dawud, Ibnu Majah)
Dalam hadis muttafaq alaihi ini terdapat tambahan Allahumma. Sedangkan Rabbana… itu kita ambil dari hadis Bukhari dan Muslim lainnya. Jika kita artikan maka Allahumma rabbana berarti “Ya ALLAH, ya Tuhan kami”.


9. Sujud
Setelah membaca tasbih tuma’ninah kemudian ber-SUJUD dengan cara membungkuk meletakkan wajah ke sajadah, kemudian membaca tasbih SUJUD sebanyak 3 kali: ‘Subhana rabii al a’la’ (Maha Suci Tuhan yang Maha Tinggi).

Dalil Tentanng Bacaan Sujud
  • “Dari Hudzaifah katanya ia melihat Rasulullah SAW sujud dengan mengucapkan: Subhana rabii al a’la (Maha Suci Tuhan yang Maha  Tinggi). “(HR. Muslim)
  • “Rasulullah SAW mengajarkan: Apabila salah seorang dari kamu bersujud, hendaklah ia mengucapkan ‘Subhana rabii al a’la’ tiga kali, dan itulah yang paling sedikit.” (HR. Tirmizi, Abu Dawud, Nasa’i & Ibnu Majah)

Tata Cara Sujud
  • Dari Al Barra’ katanya Rasulullah SAW bersabda: “Apabila engkau sujud, letakkan telapak tanganmu dan tinggikan kedua sikumu.” (HR. Muslim)
  • Dari Maimunah isteri Nabi SAW katanya: “Apabila Rasulullah SAW sujud direnggangkannya kedua sikunya dari rusuk, sehingga kelihatan putih ketiak beliau. Dan apabila beliau duduk antara dua sujud dan pada tasyahud awal, beliau duduk tenang di atas pahanya yang kiri.” (HR. Muslim)
  • “Dari Ibnu Abbas ra, ia berkata: Nabi SAW diperintahkan untuk sujud dengan tujuh anggota badan dan dilarang menutup dahinya dengan rambut dan pakaian.” (HR. Bukhari, Muslim, Nasa’i, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmed bin Hanbal & Ad-Darami)

Hadits diatas mengatakan bahwa Tujuh anggota badan itu ialah: 
(1) wajah yaitu dahi dan hidung ;

(2-3) kedua belah telapak tangan ;
(4-5) kedua ujung lutut ;
(6-7) kedua ujung kaki.
  • Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Ketahuilah bahwa aku benar-benar dilarang untuk membaca al-Qur'an sewaktu ruku' dan sujud, adapun sewaktu ruku' agungkanlah Tuhan dan sewaktu sujud bersungguh-sungguhlah dalam berdoa karena besar harapan akan dikabulkan do'amu.” (HR. Muslim.)


10. Duduk di Antara Dua Sujud
Setelah bersujud kemudian bangkit duduk dengan cara bangkit dari sujud sambil membaca takbir “Allahu Akbar” tetapi membaca takbir ini tidak dengan mengangkat kedua tangan. Kemudian duduk dengan menekukkan ujung kaki kanan dan setelah duduk tegak sempurna kemudian membaca: allaahummagh firlii, warhamnii, wahdinii, wa 'afinii, war zugnii (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah diriku, berilah petunjuk padaku, limpahkan kesehatan padaku dan berilah rizqi padaku).

Dalil Tentang Bacaan Duduk di Antara Dua sujud
  • Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam antara dua sujud biasanya membaca: “Allaahummagh firlii, warhamnii, wahdinii, wa 'afinii, war zugnii (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah diriku, berilah petunjuk padaku, limpahkan kesehatan padaku dan berilah rizqi padaku)." Diriwayatkan oleh Imam Empat kecuali Nasa'i dengan lafadz hadits menurut Abu Dawud. Shahih menurut Hakim.


11. Sujud
Setelah membaca doa zikir duduk antara dua sujud kemudian kembali membaca takbir sambil membungkuk untuk ber-SUJUD dan kembali membaca tasbih SUJUD 3 kali: Subhana rabii al a’la (Maha Suci (Allah) Tuhan yang Maha Tinggi).

Dalil Tentang Sujud ke-2
  • “Dari Barra bin Azib, ia berkata: Aku mengamati shalat Muhammad SAW. Aku perhatikan berdirinya, rukuknya, I’tidal setelah rukuk, sujudnya, duduk antara dua sujud, sujud kedua, duduk antara salam dan selesai shalat, (aku perhatikan) satu dengan lainnya saling sama.” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, Abu Dawud, Ahmed bin Hanbal & Ad-Darami)
  • Dari Abu Salamah bin Abdurrahman bahwa Abu Hurairah shalat mengimami para sahabat. Ia bertakbir tiap kali turun dan bangun. Ketika selesai ia berkata: “Demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling mirip dengan shalatnya Rasulullah SAW.” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmed bin Hanbal, Malik & Ad-Darami)


12. Duduk Tuma’ninah Setalah Sujud yang Ke-2
Setelah bangkit dari sujud yang kedua, hendaknya duduk tuma’ninah sekejap dua atau 5 detik kemudian kembali berdiri untuk mengerjakan rakaat selanjutnya sambil membaca takbir, setelah berdiri dengan sempurna kemudian memulai rakaat selanjutnya dengan kembali membaca Fatihah.

Dalil Tentang Duduk Tuma’ninah Setelah Sujud ke-2
  • “Dari Malik Ibnu al-Huwairits Radliyallaahu 'anhu bahwa dia pernah melihat Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam sedang sholat, apabila beliau dalam rakaat ganjil dari sholatnya beliau tidak bangkit berdiri sebelum duduk dengan tegak.” (HR. Bukhari)


13. Duduk Tahiyat atau Duduk Tasyahud
Duduk tahiyat awal adalah duduk sesudah sujud kedua pada setiap dua rakaat, dengan cara meluruskan ujung kaki kiri dan menegakkan  ujung kaki kanan, kemudian membaca “Attahiyyatul mubarokatush-sholawatulillah….”
Sesudah sampai pada membaca syahadat, kemudian bangkit berdiri sambil bertakbir untuk melanjutkan rakaat selanjutnya.

Tata Cara Duduk Tasyahud
  • Dari ‘Aisyah katanya : “Rasulullah SAW memulai shalat beliau dengan takbir. Sesudah itu beliau baca surat Al Fatihah. Apabila beliau Ruku’ kepalanya tidak mendongak dan tidak pula menunduk, tetapi pertengahan (sehingga kepala beliau kelihatan rata dengan punggung). Apabila beliau bangkit dari Ruku’ beliau tidak sujud sebelum beliau berdiri lurus terlebih dahulu. Apabila beliau mengangkat kepala dari sujud (pertama), beliau tidak sujud (kedua) sebelum duduknya antara dua sujud itu tepat benar (sempurna) lebih dahulu. Tiap-tiap selesai dua rakaat, beliau membaca tahiyat sambil duduk menghimpit kaki kiri dan menegakkan kaki kanan. Beliau melarang duduk seperti cara setan duduk atau seperti binatang buas duduk. Dan beliau menyudahi shalat dengan membaca salam.” (HR. Muslim)
  • Dari Amir bin Abdullah bin Zubair dari bapaknya, katanya : “Apabila Rasulullah SAW duduk mendoa (tasyahud dalam shalat) diletakkannya tangan kanan diatas paha kanan, tangan kiri diatas paha kiri. Beliau menunjuk dengan telunjuk, meletakkan ibu jari di jari tengah serta meletakkan telapak tangan kiri di atas lutut.” (HR. Muslim)

Dalil Tentang Bacaan Tasyahud Pertama
  • “Abdullah Ibnu Mas'ud Radliyallaahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam berpaling pada kami kemudian bersabda: ‘Apabila seseorang di antara kamu sholat hendaknya ia membaca:
 اَلتَّحِيَّاتُ لِلَّهِ , وَالصَّلَوَاتُ , وَالطَّيِّبَاتُ , اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا اَلنَّبِيُّ وَرَحْمَةَ اَللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ , اَلسَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اَللَّهِ اَلصَّالِحِينَ , أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ , وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
(Segala penghormatan, sholawat, dan kebaikan itu hanya bagi Allah semata. Semoga selamat sejahtera dilimpahkan kepadamu wahai Nabi beserta rahmat Allah dan berkah-Nya. Semoga selamat sejahtera dilimpahkan kepada kami dan kepada hamba-hamba-Nya yang shaleh. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah Yang Esa tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu hamba dan utusan-Nya), kemudian hendaknya ia memilih doa yang ia sukai lalu berdoa dengan doa itu." Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut riwayat Bukhari.
Menurut riwayat Nasa'i: Kami telah membaca doa itu sebelum tasyahud itu diwajibkan atas kami.
  • ”Menurut riwayat Ahmad: bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam telah mengajarinya tasyahud dan beliau memerintahkan agar mengajarkannya kepada manusia.”
  • “Menurut riwayat Muslim bahwa Ibnu Abbas Radliyallaahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam mengajarkan kepada kami tasyahhud:
اَلتَّحِيَّاتُ اَلْمُبَارَكَاتُ اَلصَّلَوَاتُ لِلَّهِ ... - إِلَى آخِرِهِ
 (Segala kehormatan yang penuh berkah, sholawat kebaikan hanya bagi Allah semata... sampai akhir).”
  • “Dari Abdullah bin Mas’ud ra dia berkata: Ketika kami bermakmum di belakang Rasulullah SAW kami membaca : “Keselamatan tetap kepada Allah, keselamatan tetap kepada si fulan.” Suatu hari Rasulullah SAW bersabda kepada kami : Sesungguhnya Allah adalah keselamatan itu sendiri. Jadi apabila salah seorang di antara engkau duduk (membaca tasyahud) hendaknya membaca: ‘Segala kehormatan, semua rahmat dan semua yang baik itu milik Allah. Semoga keselamatan, rahmat Allah dan berkah-Nya dilimpahkan kepadamu, wahai Nabi. Semoga keselamatan dilimpahkan kepada kami dan kepada para hamba Allah yang saleh.” Apabila dia telah membacanya, maka keselamatan itu akan menyebar kepada semua hamba Allah yang saleh baik yang di langit maupun yang di bumi. ‘Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad hamba-NYA dan Rasul-NYA’, kemudian berdoalah sesukanya.” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmed bin Hanbal)


14. Duduk tahiyat akhir
Adalah duduk pada rakaat terakhir, dengan cara meluruskan ujung kaki kiri dan menegakkan ujung kaki kanan, kemudian membaca: “Attahiyyatul mubarokatush-sholawatulillah….”

Dalil Tentang Cara Duduk Tasyahud Akhir
  • Dari Muhammad bin Amr bin Atha’, bahwasanya ia duduk dengan sekelompok sahabat Nabi SAW. Lalu kami menyebutkan tentang shalat Nabi SAW, maka Abu Humaid As Sa’idi berkata: “Aku adalah orang yang paling hafal di antara kalian tentang shalat Rasulullah SAW, aku melihat beliau bertakbir seraya menempatkan kedua tangannya sejajar dengan kedua pundaknya. Apabila ruku’ beliau menempatkan kedua tangannya pada kedua lututnya, kemudian beliau meratakan belakangnya (punggungnya). Apabila mengangkat kepalanya, beliau tegak hingga setiap ruas tulang belakang kembali pada tempatnya. Apabila sujud, beliau meletakkan kedua tangannya tanpa menelungkupkan dan tidak pula merapatkannya, dan menghadapkan jari-jarinya ke kiblat. Apabila duduk pada dua rakaat, beliau duduk di atas kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya. Apabila duduk pada rakaat terakhir beliau memajukan kaki kirinya dan menegakkan kaki yang satunya, seraya duduk dengan pantatnya.” (HR. Bukhari)

Dalil Tentang shalawat Nabi
  • “Dari Abdullah bin Abu Laila, dia berkata: Kaab bin Ujrah menemuiku dan berkata: Maukah engkau aku berikan hadiah? Rasulullah SAW pernah menemui kami, lalu kami berkata: “Kami telah mengetahui cara membaca salam untuk baginda, lalu bagaimana kami membaca selawat untuk anda?” Beliau SAW bersabda: Bacalah, “Ya Allah, limpahkan kesejahteraan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah melimpahkan kesejahteraan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau maha terpuji lagi mulia. Ya Allah, limpahkanlah keberkahan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan keberkahan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau maha terpuji lagi maha mulia.” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmed bin Hanbal)
  • “Dari Abu Mas'ud bahwa Basyir Ibnu Sa'ad bertanya: Wahai Rasulullah, Allah memerintahkan kepada kami untuk bersholawat padamu, bagaimanakah cara kami bersholawat padamu? beliau diam kemudian bersabda: Ucapkanlah:
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ , وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ , كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ , وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ , وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ , كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِي اَلْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
(Ya Allah limpahkanlah rahmat atas Muhammad dan keluarganya sebagaimana telah Engkau limpahkan rahmat atas Ibrahim. Berkatilah Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau telah memberkati Ibrahim. Di seluruh alam ini Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung), kemudian salam sebagaimana yang telah kamu ketahui." (HR. Muslim). Dalam hadits tersebut Ibnu Khuzaimah menambahkan: "Bagaimanakah cara kami bersholawat padamu, jika kami bersholawat padamu pada waktu sholat."


16. Salam
Sesudah selesai membaca tahiyat akhir, kemudian mengakhiri shalat dengan mengucapkan SALAM sambil menolehkan wajah ke sebelah kanan, kemudian menoleh ke sebelah kiri seraya membaca SALAM.

Dalil Tentanng Salam
  • Dari Abu Ma’mar ra. Katanya : “Seorang Amir (pemimpin) dari Makkah menyudahi shalat dengan dua kali salam. Maka bertanya Abdullah, “Dari mana anda peroleh cara begitu?” Kata Al Hakam didalam hadisnya, “Sesungguhnya Rasulullah SAW melakukan seperti itu.” (HR. Muslim)
  • Dari Amir bin Sa’ad dari bapaknya (Sa’ad bin Abi Waqash ra), katanya : “Aku melihat Rasulullah SAW memberi salam ke kanan dan ke kiri sehingga terlihat olehku putih pipi beliau.” (HR. Muslim)
  • Wail Ibnu Hujr Radliyallaahu 'anhu berkata: Aku pernah shalat bersama Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, beliau salam ke sebelah kanan dan kiri dengan (ucapan):
اَلسَّلَام عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اَللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
(Semoga salam sejahtera atasmu beserta rahmat Allah dan berkah-Nya). (HR. Abu Dawud dengan sanad shahih)


Perintah dari Nabi Muhammad SAW untuk bertuma’ninah dalam shalat
Hadis riwayat Abu Hurairah ra :
Bahwa Rasulullah SAW masuk mesjid. Lalu seorang laki-laki masuk dan melakukan shalat. Setelah selesai ia datang dan memberi salam kepada Rasulullah SAW. Beliau menjawab salamnya lalu bersabda : Ulangilah shalatmu, karena sesungguhnya engkau belum shalat. Lelaki itu kembali shalat seperti shalat sebelumnya. Setelah shalatnya yang kedua ia mendatangi Nabi SAW dan memberi salam. Rasulullah SAW menjawab : Wa’alaikas salam. Kemudian beliau bersabda lagi : Ulangi shalatmu, karena sesungguhnya engkau belum shalat. Sehingga orang itu mengulangi shalatnya sebanyak tiga kali. Lelaki itu berkata : Demi Zat yang mengutus anda dengan membawa kebenaran, saya tidak dapat mengerjakan yang lebih baik daripada ini semua. Ajarilah saya. Beliau bersabda : Bila engkau melakukan shalat, bertakbirlah. Bacalah bacaan dari Al-Quran yang engkau hafal. Setelah itu rukuk hingga engkau tenang dalam rukukmu. Bangunlah hingga berdiri tegak. Lalu bersujudlah hingga engkau tenang dalam sujudmu. Bangunlah hingga engkau tenang dalam dudukmu. Kerjakan semua itu dalam seluruh shalatmu.” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmed bin Hanbal)